Selasa, 16 Juni 2020

Pengelola Domain Internet Indonesia Siap Daftarkan Aksara Arab Pegon ke ICANN


Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) berencana mendaftarkan nama domain beraksara Pegon ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Melansir wikipedia, aksara Pegon merupakan abjad Arab yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa, Madura, dan Sunda. Kata Pegon sendiri berasal dari bahasa Jawa, p├ęgo, yang berarti 'menyimpang'. Dikatakan menyimpang, karena bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab merupakan sesuatu yang dianggap tidak lazim.

Yudho Giri Sucahyo, Ketua PANDI, menjelaskan latar belakang pendaftaran aksara Pegon ke ICANN sebagai Internationalized Domain Name (IDN) adalah karena aksara tersebut erat kaitannya dengan Indonesia yang mayoritas muslim.

"Aksara Pegon adalah sebuah aksara yg digunakan secara luas di kalangan umat muslim Indonesia, khususnya masih diajarkan dan digunakan di komunitas pesantren," ujar Yudho, dalam rilisnya, Senin (15/6).

Selain menjadi IDN, PANDI juga akan membuat lomba pembuatan website berdomain aksara Pegon, dengan sebagian atau seluruh isi kontennya menggunakan aksara Pegon.

Mohamad Shidiq Purnama, Chief Registry Officer (CRO) PANDI, menambahkan lomba website aksara Pegon akan dimulai pada pekan ketiga bulan ini.

"Pendaftaran akan ditutup pada 21 Agustus tahun ini. Batas akhir submit website sampai 20 November, sedangkan pengumuman pemenang dilakukan pada 18 Desember mendatang," terang Shidiq.

Informasi lomba bisa didapat di platform sosial media PANDI dan submit pendaftaran bisa mengunjungi tautan s.id/lombaaksarapegon.

Lesbumi PB NU dan Komunitas Mendukung

Rencana untuk meng-IDN-kan aksara Pegon dan lomba website dengan aksara Pegon ini mendapat dukungan dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) yang berada di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU).

Lesbumi pernah menerbitkan secara resmi "Saptawikrama" ke dalam 13 aksara dan 5 bahasa daerah, termasuk Jawa, Sunda, Batak, Rejang, Bugis, Kawi, dan Pegon.

"Saptawikrama adalah tujuh strategi kebudayaan yang merupakan pijakan Lesbumi memajukan kebudayaan dan kesenian di Indonesia," ujar K.Ng. H Agus Sunyoto, Ketua Lesbumi PB NU.

K. Ng. H Agus Sunyoto berpendapat program PANDI senada dengan strategi yang dijalankan lembaganya.

"Itu bagus, lomba membuat website dengan konten Arab Pegon. Banyak manuskrip Islam nusantara yang ditulis dalam aksara Arab Pegon, literatur kitab-kitab di pesantren juga menggunakan aksara Arab Pegon. Makalah dan tulisan lepas santri juga banyak yang menggunakan Pegon, ribuan koleksi manuskrip Lesbumi PB NU juga banyak yang menggunakan aksara Arab Pegon," ungkapnya.

Di era digital, ada banyak langkah dan cara untuk mengimbangi perkembangan zaman. Peran pondok pesantren, kiai, dan santri khususnya dalam pendidikan dan kebudayaan dari dulu hingga saat ini tetap berjalan beriringan bahkan mandiri.

"Itulah bukti nyata peran NU dalam mencerdaskan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Sejalan dengan strategi kebudayaan Lesbumi Saptawikrama juga mengarah pada literasi publik tentang khasanah Islam nusantara. Saya harap Lesbumi mengapresiasi langkah PANDI dan berperan aktif di dalamnya," tutupnya.

Selain itu, komunitas Pegon di Tanah Air juga antusias memberikan dukungannya melalui surat resmi kepada PANDI. Dukungan juga datang dari Nawapustaka, sebuah swaka konservasi dan digitalisasi naskah nusantara yang juga aktif mengisi konten digital aksara nusantara melalui jejaring website dan media sosial.

0 komentar:

Posting Komentar